Dapat beasiswa ke Jepang ditolak, malah pilih STAN
April 14, 2008

Ugh.. Miris membaca berita ini. Bodoh bener sih ni anak, ga gaul kali ya. Beasiswa ke Jepang ga diambil. Eh malah masuk kuliah di STAN. Belum tau kali ya, kalau di STAN tuh bukan nyari ilmu. Hanya berguna untuk nyari duit. Lha wong otaknya encer kok kuliah di STAN, mending kuliah tuh di negeri Sakura, orang pinter pasti banyak yang gaji tinggi. Kuliah di STAN tuh cocoknya untuk orang yang malas berpikir. Lah gimana toh, lha wong ujiannya (mid atau final) kebanyakan dikasih kisi-kisi. Dosennya dosen cabutan. Kebanyakan lulusan STAN yang nyari pengalaman buat ngajar. Bukan asli berprofesi jadi dosen, hanya PNS-PNS yang nyari kesibukan (dengan mengajar) di waktu luang mereka. Cara mengajar juga difokuskan bukan buat ‘mengerti’ tapi lebih di arahkan buat mengerjakan soal2, hanya dikasih soal dan dibahas, dikasih soal dan dibahas, bukan diprioritaskan untuk mengerti dasar-dasar nya. Contoh jelasnya adalah pemberiaan program mata kuliah. Anak-anak STAN tidak diberi mata kuliah teori yang banyak. Anak-anak D III kalo sudah D IV baru di kasih mata kuliah Teori Akuntansi. Decision maker, jelas bukan tujuan belajar di STAN. Lulusan STAN hanya akan melahirkan kroco-kroco di kantor-kantor pemerintahan di DEPKEU. Jadi saran buat orang di bawah ini (yg sudah terlanjur masuk STAN), kuliahlah nanti kalo sudah selesai DIII, perbarui diri, perbaiki diri, jadilah decision maker, kuliah lah terus …!!!
http://jawapos.co.id/index.php?act=detail_radar&id=207206&c=61
Senin, 14 Apr 2008
Frenda Ernanto, Dapat Beasiswa ke Jepang dan Diterima di 4 PT Terkemuka
Agar Konsentrasi, Belajar sambil Nonton TV
Ini salah satu pelajar berotak encer dari Kediri. Mendapat bea siswa bersekolah di Jepang serta diterima di lima perguruan tinggi terkemuka. Mengapa kesempatan belajarnya di Negeri Matahari Terbit ditolaknya?
RULLY PRASETYO, Kediri
—–
Beberapa waktu lalu, Frenda Nic Qomar Ernanto, demikian nama lengkap pemuda ini, kembali berada di SMAN 2 Pare. Pemuda yang kini semester pertama di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) tersebut berada di sekolahnya ketika SMA tersebut bukan untuk sekadar bernostalgia. Tapi, memberikan bimbingan bagi siswa sekolah tersebut yang akan mengikuti olimpiade matematika tingkat Kabupaten Kediri.
Soal-soal matematika yang sulit, bisa dengan cepat dikerjakan Frenda. Tak hanya itu, penjelasannya juga mudah dipahami. Lima siswa yang akan beradu kepiawaian dalam olimpiade pun manggut-manggut.
Riska Septiana, siswi kelas X SMAN 2 Pare, memuji kemampuan kakak kelasnya tersebut dalam mengajar matematika. “Enak ngajarnya dan mudah dimengerti,” pujinya.
Memang, dalam matematika, dan juga pelajaran lain, kemampuan Frenda patut diacungi jempol. Nilai Ujian Nasional (NUN)-nya tahun lalu sempurna. Alias 10,00. Total NUN-nya, dari tiga mata ujian, 28,2. Atau hanya tinggal 1,8 dari nilai sempurna. Frenda adalah peraih NUN tertinggi di sekolahnya saat itu.
Bukti bahwa Frenda berotak encer tak hanya itu. Dia sukses menembus perguruan tinggi terkemuka di Indonesia. Frenda diterima di Universitas Gajahmada, Universitas Airlangga, Sekolah Ilmu Statistik, dan STAN. Yang luar biasa, dia juga menjadi salah satu pelajar yang mendapat bea siswa berkuliah di Osaka University Jepang.
Khusus untuk tes mendapatkan beasiswa di Osaka, Frenda melaluinya tidak dengan mudah. Dia harus melalui beberapa tahap yang sangat menyita enerji. Untuk tahap pertama adalah tes administrasi. Setelah lolos tes administrasi, Frenda harus melahap tes tulis di Unair. Mata pelajaran yang diujikan adalah matematika, bahasa Inggris, fisika dan kimia.
Dalam tes tulis tersebut Frenda harus bersaing dengan 160 peserta. Termasuk sembilan rekannya dari SMAN 2 Pare.
Setelah lolos dari hadangan tes tersebut, Frenda mengikuti tes akhir. Yaitu wawancara. Tidak main-main, wawancara digelar di Kedutaan Besar Jepang di Jakarta pada September 2007. Saingan Frenda adalah 18 pelajar berprestasi lain dari seluruh Indonesia.
Berita terpilihnya Frenda dalam program beasiswa tersebut diterima sebulan kemudian. “Saat itu saya dihubungi lewat telepon oleh petugas dari Kedutaan Besar Jepang di Jakarta,” terangnya.
Tapi, yang berkecamuk di dada Frenda justru campuran senang dan bingung. Anak pertama pasangan Sudirman-Nanik Yuniarti ini ternyata gamang harus berpisah lama dengan keluarganya. Di sisi lain, dia sangat sayang melepas kesempatan emas tersebut. Menimba ilmu di luar negeri sudah diidam-idamkan sejak lama.
Frenda pun akhirnya memilih berkonsultasi dengan keluarnya. Pemuda kelahiran Tulungagung, 5 Mei 1990 ini kemudian minta saran. Saat itulah orang tuanya menyarankan Frenda agar kuliah di STAN. Alasannya, masa depan di STAN dianggap lebih cerah bila dibandingkan kuliah di Jepang.
“Saya ingin menjadi PNS. Makanya, saya juga setuju dengan pilihan orang tua untuk tetap di STAN,” akunya.
Di STAN, Frenda mengambil jurusan Administrasi Perpajakan. Saat ini, dia tinggal bersama tujuh mahasiswa lain yang juga asal Kediri. “Saya kontrak (rumah) di sana (Jakarta, Red),” ujarnya.
Walaupun tergolong pintar, cara belajar Frenda unik juga. Dia tidak pernah mengikuti pendidikan di lembaga bimbingan belajar (LBB). Frenda belajar sendiri dengan dibantu orang tuanya. Kebetulan, ayah Frenda adalah guru matematika di SMPN 2 Ngoro, Jombang.
Yang unik, Frenda tak bisa lepas dari televisi ketika belajar. Walaupun membaca buku, televisi tetap menyala dengan acara kegemarannya. “Saya tidak bisa konsentrasi (belajar) kalau tidak lihat televisi,” terangnya.
Hanya, agar belajarnya juga tak terganggu, dia memilih acara yang ringan. Seperti sinetron atau film kartun.
Tapi, setiap hari dia tak bisa lepas dari buku. Senin sampai Sabtu belajarnya tiga jam. Mulai 18.00 sampai 21.00. Pada Minggu, Frenda belajar mulai pukul 08.00 selama tiga setengah jam. (fud)









July 19, 2008 at 2:21 am
Goblok……….Goblok…..goblok…….
Dalam soal IQ dia pintar tapi dalam soal Nalar dia Goblok…..
Baru kali ini aku lihat orang setolol…
Gini lhoo….. Jika kita pake nalar…
Bukannya besok mulai tahun 2010 atau berapa adalah eranya globalisasi…dan biasanya yang dibutuhkan adalah orang2 yang berkualitas dan biasanya dicari orang2 lu2san luar…..
Masak kesempatan emas sperti ini dibuang….
Bukannya jika kita berada di jepang malah akan mendapat banyak pengalaman ilmu dan relasi yang baik2….
Aduh sangat sayang sekali……….
Bukannya diberi kesempatan menjadi executive muda malah memilih menjadi kroco birokrasi selamanya…
Sangat disayangkan…………..
mana ada lu2san luar negeri yang kere/miskin sekarang………..
July 20, 2008 at 6:30 pm
hehe santai adhi..
dianya juga udah ambil keputusan kok, mau diapain lagi..
July 31, 2008 at 5:00 am
eeeeeeeeeeeee
syg bgt tu ya, klo aku sih tanpa pikir panjang langsung ngambil tu tawaran ke jepang.
emg sih susah klo jauh dari keluarga, tp klo demi kesuksesan pa salahnya sih pisah sebentar.
ntar klo kita sukses kan merekas juga yang bangga n paztinya ketularan rezekinya. hehehehe
tapi klo emg dia dah milih gtu ya mo diapain lagi?
klo misal dipaksain dai tetep milih kuliah ksono, tapi hatinya gak senang pa gunaya. gak masuk juga tu pelajaran.
percuma adja deng….
August 20, 2008 at 12:44 am
eits… masuk stan tuh susah bertahannya juga susah… DO bertebaran jadi jangan sembarangan menghina donk… lgpl jadi PNS depkeu juga enak… otak anak2 stan juga encer2 bin pinter2
October 4, 2008 at 11:09 pm
klo emang lulusan stan cuma menghasilkan kroco2 di depkeu. bwt apa depkeu masih mau menerima lulusan stan?
emang depkeu segitu bodohnya ya??
padahal faktanya lulusan stan adalah lulusan siap pakai,karena itu rata2 mata kuliahnya adalah praktek, bukan teori. Hal tersebut disesuaikan dengan waktu yang cuma 3 tahun untuk DIII,walaupun hal itu emang membuat lulusan stan susah bertindak sebagai decision maker. tapi apa boleh bwt. waktu 3 tahun emang tidak cukup apabila mengajarkan teori dan praktek bersamaan secara mendalam
dan jika kita membandingkan seleksi di stan dengan ujian cpns. ujian cpns di stan (DIII)bisa dikatakan berlangsung sebanyak 6 kali. yaitu setiap ujian semester, karena kalo tidak lulus ya kena DO
jadi jangan berfikir kuliah di stan itu mudah, walaupun “emang” tindakan yang bodoh apabila kita mendapat kesempatan kuliah di negeri sakura tetapi malah ngambil kuliah di stan
October 9, 2008 at 12:25 am
>>> walaupun “emang” tindakan yang bodoh apabila kita mendapat kesempatan kuliah di negeri sakura tetapi malah ngambil kuliah di stan <<<
setuju sekali..
October 20, 2008 at 7:08 pm
Walaupun memang iya keputusan lebih memilih STAN dibanding kuliah di Jepang adalah sebuah keputusan yang ’silly’, tapi saya heran dengan komentar Njenengan yang menghina dina STAN, secara Njenengan adalah bagian dari orang2 ‘bodoh’ yang pasrah2 saja menjalani 3 tahun di kampus ini.
Menurut saya, wajar kalau yang diajarkan di STAN lebih banyak kemampuan teknis, karena ini program diploma. Mo belajar teori ? Kuliah saja di program strata. Repot amat.
Menurut saya kok kurang bijak ya mengadili pilihan orang lain. Apalagi ternyata sendirinya juga telah mengenyam manfaat dari pilihan yang diadilinya itu. Tiap orang punya pertimbangan sendiri kok atas pilihan2 hidupnya..
October 20, 2008 at 7:27 pm
eh ada anak DIV, sugeng rawuh buat Njenengan juga..
bukan menghina dina kok zah, cuma mengkritisi aja, biar program kuliah n belajarnya bisa lebih bagus lagi.
biar dosen-dosen nya lebih sadar n lebih meningkatkan kemampuan diri, biar jadi dosen beneran. biar g ada lagi istilah ngajar di STAN hanya sebagai sambilan. paling ga seneng tuh kalo ada yang bilang ‘bibit anak STAN tuh dah bagus, jadi tinggal dikasih buku aja udah pada pintar’, hayah bilang aja malas ngajar om..
istilah mengadili kurang cucok zah, lebih tepatnya mengingatkan, supaya seabis lulus harus lanjutin kuliah lagi, STAN itu ga ada apa-apanya, ambil ijazah STAN sebagai titik nol, seabis itu tingkatin diri dengan belajar lagi. Kalo bisa kuliah di program D IV kyk Njenengan ini. ya tho..
November 7, 2008 at 6:51 pm
ya menurut Q tue ya gk ap2 ta lawong orang tue kan beda2 kok…. kok pean yg ribet. knp kok jelek2n STAN pa pean gak dtrima d STAN?????????????????????
November 12, 2008 at 9:32 pm
Wahaha..Ternyata bnar kta orang, ketidaktahuan, dan pikiran sempit adalah sumber dari ketololan..
Berpikir tu jauh kedepan bung..NIY JAWABAN BWT KETOLOLAN KALIAN..
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Sya kira frenda punya pikiran yg sma spt sya, just like him, Sya jga kterima diberbagai univ terkemuka, but knapa g diambil cos:
1. Kul di STAN gratis so g bebani ortu (Rp0,-/smt)
2. Kul di STAN lgsung krja so kt uda punya pijakan sndiri,gak minta mulu ma ortu, malu boss..
3. Menurut Kk kls yg uda di DEPKEU..Kesempatan blajar n beasiswa ke LN AMAT SANGAT BUANYAK BUANGET di DEPKEU n sdh tbukti koq..G cm ke negerinya Kyoko Fuckaja..pa lagi dg kmampuan frenda kya gtu..
4. Anda thu gmana keadaan negara kt skarang..yup,ancur2an dri segi birokrasi tentu sja..So kt sbagai generasi muda shrusnya WAJIB ikt memprbaiki negara..Dg di STAN n kja d DEPKEU brarti anda pnya akses lgsung kejntung prthanan musuh bangsa ini (KKN, dsb..)
5. STAN slain sbg kmpus, bnyk dianggap sbg psantren, dmana mhsiswa g cma dicekoki ma ilmu duniawi tp jg ilmu agama ketika ia berada dluar wktu prkuliahan. Subhanallah..btapa bnyk ank STAN yg brubah drastis trmasuk sya..dr dulu yg agamanya cnderung lemah..skarang Insya Allah sdh bgitu luas n dlm..Mhsiswa STAN,mnurut sya,mrupkn generasi emas yg bsa merombak tatanan birokrasi ngara ini..Ketika birokrasi kt membaik, pd akhirnya siapa yg diuntungkn???rakyatlah yg pd akhirnya menuai investasinya di STAN..
5. So..ksimpulannya, betapa tolol orang pintar spt frenda yg gak milih STAN..sungguh ketololan yg luar biasa bgi seorang pemuda ketika ia punya ksempatn tuk prbaiki bngsa tp tdk ia manfaatkan..sungguh tolol pemuda yg kul di univ trkemuka ato LN cma tuk dptkn pkrjaan layak dg gaji milyaran nanti di prshaan2 asing, antek kapitalis, yahudi laknatullah, smber utama kebangkrutan bngsa n dunia, hnya krena pikirannya yg smpit..(anda yg intelek ini tentu tahu bahwa 80% kekayaan dunia hanya dikuasai oleh 20% dr pnduduk dunia)
6. Sya sungguh menyesal anda brpikir dg logika smpit brdsrkan sedikit sumber, bukti n informasi yg tdk akurat n cnderung MENYESATKAN..Smoga Allah mencerahkan hati anda n mmbuka mata anda..
7. Sory, mo nanya??emang u g kterima STAN ya??ato bkas DO dr STAN?? WAHAHA..KACIAAAANN..DEH LOE..
8. STAN has de best human resources and always will..Kk tingkat sya di D4, beliau yg spesialis olimpiade pnah ngomong pd sya ketika sya tanya ttg kesiapaannya jelang olimpiade: “Halah apaan UI ma UGM tu mah g da apa2nya..”
9. Maaf klo da kta2 yg kurang berkenan n tulisannya kbanyakan..
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
June 25, 2009 at 6:41 am
“antek kapitalis, yahudi laknatullah, smber utama kebangkrutan bngsa n dunia”
ternyata LO ORANG TOLOL yang sebenarnya…!!!!!
November 12, 2008 at 10:25 pm
Buat siti : makasih yah sudah mampir..
Buat bung don’tcommentifudon’tknow, tanggapan saya :
1. setuju
2. setuju
3. setuju, koneksi/kenalan/jaringan sangat diperlukan disini
4. setuju sekali, makin banyak org baik di depkeu makin berkurang KKN nya..
asal tidak malah ikut masuk ke dalam sistem yg bobrok..
berpikir optimis saja.. ke depan depkeu makin baik..
5. setuju, banyak kegiatan agama, kajian2 yg ada, yg bisa membuka mata hati kita, menajamkan pikiran, u/ kemajuan tatanan birokrasi, berlatih pengkaderan, dan malah bisa bergabung dengan partai..
5. yg ini kurang setuju, argumen : tujuan kita adalah membenahi negeri ini, memperbaiki bangsa kalo dalam bahasa bung, dengan kuliah di LN ato di univ terkemuka itu bukan berarti otomatis jadi antek kapitalis kok yg hanya bisa bekerja di prshn asing, hanya bisa mengikuti yahudi laknatullah, justru setelah mendapat ilmu yg bagus dari LN ato univ. terkemuka tsb, kita bisa mengambil lebih manfaatnya yakni dengan kembali ke negeri sendiri, menularkan ilmu yg sudah kita peroleh, membangun negeri ini dengan ilmu yg kita dapat, dengan ilmu yang tentu tidak akan kita peroleh dari STAN, karena sistem pendidikan di STAN agak “kurang” kualitasnya jika dibanding sistem pendidikan di LN ato univ. terkemuka. [sentilan supaya STAN terus berbenah saja].
6. terima kasih, semoga dengan obrolan ini kita semua bisa tercerahkan hatinya dan terbuka matanya.
7. saya sudah lulus STAN.. alhamdulillah berhasil lulus tidak kena DO.. kalo bung gmana? sudah lulus?
8. mm.. kok agak sombong yah.. kakak tingkat anda, saya agak kurang suka dengan orang yg sombong..
9. tidak perlu minta maaf kok, kita semua belajar disini, perbedaan pendapat adalah sehat, asal tidak memaksakan pendapat, terima kasih yah sudah mampir..
May 4, 2009 at 10:31 pm
selamat yach!!!
kamu enak yach coy bisa pilih yang mana aza. aku selalu impiin supaya bisa belajar kejepang tapi itu tidak mungkin sekali. aku dukung kamu karena itu adalah hak kamu. tau gak dulu aku selalu mengharapkan untuk kuliah di STAN atau di salah satu universitas di JEPANG. Tapi aku tidak tau impian ku itu berlebihan atau gak.
doain aku ya Frenda supaya aku bisa seperti kamu bisa lulus masuk ke PTN yang saya impikan tahun ini.
semangat yah coy & teruslah berkarya.
November 24, 2008 at 9:03 pm
Huuh….
dasar ngaco nhi orang,,,
padahal gw mati-matian belajar siang-malam buat bisa dapat beasiswa kuliah ke JEPANG…
Dasar kagak bisa nyukurin apa yang dia udah dapet…
week…….
December 9, 2008 at 6:30 pm
cemgok eram
December 9, 2008 at 7:01 pm
@Wei : cemgok eram artinya apa..?
December 17, 2008 at 6:16 pm
Have You Seen This? Brilliant!You Need to see this now!
December 19, 2008 at 9:11 pm
iH ko’ ga d aMbiL iYh..!!!
boDoH.
March 16, 2009 at 2:51 am
suka2 dia dong…
mgkn aja dia ngambil stan buat siap2 S2 k luar ntar…
banyak yg kayak gitu…
saia the next…
D3 STAN
D4 STAN
Harvard Graduate student… hhe
March 16, 2009 at 5:18 pm
haha… sebenarnya kebebasannya sendiri sih.. tapi klo saya tdk akan biarkan kesempatan ini lwt begitu saja!!! hanya tidak ketemu orang tua beberapa tahun ada apa sih??? Rindu??? tiap hari nelpon kan bisa… demi kesuksesan masa depan napa dilepaskan saja kesempatan hanya karena rasa kerinduan?? daripada menyesal selamanya??? ….
March 16, 2009 at 5:47 pm
@niTnOT : ih ga boleh ngomong gtu ma org.. ga baik..
@beben : ayo semangat2, biar indonesia makin banyak yg lulusan LN
@k6hui : iya apalagi sekarang ada Thr*e , lebih murah nelpon ke Los Angeles daripada Ke Lenteng Agung.. ya ga.
March 18, 2009 at 1:13 am
Lucu…
Saya sangat geli membaca blog ini, bukan karena pilihan frenda yang bikin saya geli, tapi cara berpikir orang yang bilang frenda goblok milih stan…
Kalian orang Indonesia bukan sih? Kalian tahu masuk stan bukan hanya berarti jadi kroco birokrasi seperti yang kalian bilang? Apa kalian ga berpikir jika 200 orang cerdas seperti frenda masuk stan dan mengawal keuangan negara, keuangan indonesia bisa lebih maju, lebih atraktif, dan lebih efisien nantinya?
Ingat, orang luar memberi beasiswa itu ada alasanny, dan kita pasti tahu alasannya…
Semoga kita lebih luas memandang hal ini…
Thx…
Buat frenda, Keren! ip-mu top abis,, pertahanin, buat indonesia bangga,, Dari rekanmu…
March 18, 2009 at 1:37 am
@Why? : terima kasih sudah mampir, makasih juga sudah memberi sudut pandang yg lain di postingan ini.. semoga frenda dapat terus mempertahankan ip nya, malah kalo bisa ditingkatkan lagi.. oya jangan lupa terus kuliah.. jangan berhenti kuliah setelah lulus dari STAN..
semangat semuanya..!!
April 6, 2009 at 7:54 am
ya semua da benar ada salahnya juga….
banyak juga kok tamatan stan yang korup dan berubah drastis selepas dari kampus. dan buat keluar negri..ada bagus ada jeleknya juga….
sekarang yang penting frenda udah milih apa yang terbaik buat dia….
mungkin memang bukan rejekinya dia buat bisa kul di luar,,,
Allah SWT kan punya rencananya masing-masing….
April 28, 2009 at 9:55 pm
betul.. Allah SWT sudah punya rencana, kita harus mampu berperan maksimal sesuai peran kita masing2..
April 27, 2009 at 10:24 pm
Nice to know you Bung! Saya temen sekelasnya mbak Zizah di semester 8. Salam kenal…
April 28, 2009 at 10:03 pm
salam kenal juga bung dino..
terimakasih sudah mampir..
titip salam juga buat zizah pas ketemu di kelas..
April 28, 2009 at 7:06 am
[...] mengatakan bahwa anak STAN itu tidak dididik untuk menjadi decision maker, seperti yang dikatakan di blog ini, maka itu kurang tepat, karena jika melihat dan merasakan sendiri bagaimana proses pendidikan yang [...]
April 28, 2009 at 10:09 pm
wah kalau anak D IV udah pastilah jadi decision maker, yang saya maksud di tulisan saya adalah untuk anak D 3..
semoga bisa mengoreksi..
May 13, 2009 at 6:20 am
wow
satu kata komen sy thdp tulisan anda
begitu mudahnya anda mengumbar kata-kata dan menghakimi sebuah keputusan yg frenda ambil tnpa mengetahui sedikitpun latar belakang keputusan itu..
jika anda sendiri baca tulisan anda lagi maka lihatlah apa yang anda tulis itu menjadi bumerang bg diri anda. Dan buat frenda dan orang2 seperti dia, sy yakin di STAN banyak, dunia tidak berhenti di manapun kita berada, terus tambah kompetensi diri. Beasiswa banyak bertebaran di Depkeu. Jangan mandeg dan stag hanya gara2 dosen cabutan, kuliah ga tentu or apapun yg dikeluhkan pemilik blog ini.
Semangatlah..
May 13, 2009 at 4:53 pm
setuju..
jangan patah semangat, gara2 dosen cabutan, kuliah ga tentu..
tetep semangat..!!
untuk pihak sekre STAN juga harus terus berbenah, mentang2 mahasiswanya udah nerima keadaan dan masih mau semangat kuliah… dosen2nya jadi keenakan berleha2… teruslah maju jadi dosen yg berkompeten.. org2 sekre juga harus lebih profesional..
semangat semuanya…!!
thanx ya dah mampir
May 15, 2009 at 1:55 am
ih,,ntu orang yang nolak beasiswa ke jepang bener-bener bakka desu..
klo aku jd dia pasti ku gk bakal nolak..
May 25, 2009 at 5:10 pm
hehe dia ga “bakka” lah..
pinter yg pasti..
May 25, 2009 at 4:04 am
kuliah di stan mungkin bisa faktor keterbatasan ekonomi dan kemampuan berpikir….:)
Tapi kalau saya mau D4 buat memperbaiki Penempatan..kembali ke ibukota mengejar impian dan cita-cita…walau dah mulai Telat sih…:p
May 25, 2009 at 5:15 pm
pembukaan D4 thn ini udah mau buka kan om..
May 26, 2009 at 1:02 am
udah daftar kok tinggal mengadu peruntungan…Nunggu Fungsional enath kapan Ga jelas, makanya milih D4, sebenarnya lebih enak fungsional tiap 2 atw 3 tahun ganti lokasi dan punya petualangan baru.
June 12, 2009 at 12:11 am
Hm… berbicara tentang keputusan orang… ya orang lain sah-sah saja berpendapat…
tergantung kita aja, mau idealis atau realistis…
setiap orang kan punya alasan msing2 kenapa memutuskan sesuatu…
jadi menurut saya, apapun keputusan yang diambil frenda sah-sah saja. Lagian kalo ters menerus mengeluh tentang stan juga gag baik…
Tapi kalo terlalu mengagungkan stan juga rasanya terlalu NAIF
June 12, 2009 at 12:17 am
DEE orang bijaksana..
terima kasih sudah mampir..
August 19, 2009 at 5:40 pm
wadow
kita ga bole gitu aja narik kesimpulan dari satu pihak
yang bikin blog jg ngaco
emg loe dah pernah kuliah di STAN bisa bilang gitu
klo emang loe lulusan sana
berarti itu emg tujuan loe kul di STAN
October 15, 2009 at 11:20 pm
ngiri dja m nak2 iang ica msk stan..??kt org,.msk d sn tuwh sush n bth bnyk krj keras kalee,,so jgn menghina dunt..
ok
November 1, 2009 at 9:58 am
kewl!!! dia lebih memilih kontribusi langsung ke negara.. semoga jadi penegak pajak di perbatasan yang baik! amien…